PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BEKICOT SEBAGAI PAKAN TERNAK

Print

Bekicot termasuk keong darat yang mempunyai kebiasaan hidup di tempat lembab dan aktif di malam hari (nocturnal). Sifat nocturnal bukan semata-mata ditentukan oleh faktor gelap di waktu malam tetapi juga ditentukan oleh suhu dan kelembaban lingkungannya. Bekicot memakan berbagai tanaman budidaya, oleh karena itu bekicot termasuk salah satu hama tanaman. Bagian tanaman yang sering diserang adalah tunas, cabang, serta batang muda.

Melihat tingginya kandungan protein dan asam amino pada daging bekicot dan juga tingginya kalsium dalam cangkangnya, serta kemampuannya menggantikan tepung ikan pada pakan unggas, maka tidak menutup kemungkinan bahan baku protein asal bekicot ini juga dapat dipakai sebagai sumber alternative / substitusi protein hewani dalam ransum pakan ternak lainnya (misal ternak ruminansia, babi dan unggas).

Cara Pemrosesan Bekicot Untuk Pakan Ternak, Setelah dilakukan penangkapan dan pengumpulan bekicot lalu dilakukan penyortiran dengan jalan membuang bekicot yang mati atau terlalu kecil untuk diolah (tergantung tujuan pemanenan) . Selanjutnya dilakukan penggaraman, dengan memberikan garam 10-15% dari berat total bekicot, sambil diaduk agar merata. Penggaraman dapat mematikan bekicot sekaligus mengeluarkan lendir sebanyak mungkin. Setelah melalui tahapan penggaraman, segera direbus dengan air garam 3% selama 10 menit, kemudian diangkat dan disemprot dengan air dingin, selanjutnya dilakukan pencungkilan daging untuk dipisahkan dari cangkang. Perebusan kedua (dalam larutan garam 3%) dilakukan setelah bagian perut dan isinya dibuang. Cara ini bertujuan untuk menghilangkan lendir dan agar daging menjadi lebih lunak.

Sebelum memutuskan untuk membuat tepung bekicot, sebaiknya pastikan dahulu hasil akhir produk yang diinginkan dari bekicot. Apakah ingin membuat tepung mentah, matang, atau tepung bekicot plus cangkang (utuh). Perlu diingat bahwa lendir bekicot tidak mengandung racun. Proses pembuatan tepung bekicot secara umum terbagi menjadi tiga kategori yaitu: tepung mentah, matang, utuh (tepung bekicot plus cangkang), dan silase. Beberapa contoh cara mengolah bekicot :

Tepung bekicot mentah. Cara mengolah tepung bekicot mentah sangat sederhana, yaitu melakukan pencucian bekicot menggunakan air bersih. Setelah dicuci bersih daging bekicot langsung dikeluarkan dari cangkang. Selanjutnya bagian dari daging bekicot dikeringkan dengan cara dijemur dibawah terik matahari selama 4-5 hari atau menggunakan oven dengan suhu rata-rata 60 °C lebih kurang 12 jam. Setelah kondisi daging bekicot benar-benar kering, proses selanjutnya adalah menggiling hingga halus.

Tepung bekicot matang/rebus, Cara mengolah tepung bekicot rebus membutuhkan tenaga ekstra, yaitu: bekicot terlebih dahulu dicuci hingga bersih, selanjutnya dilakukan perendaman selama ½ jam menggunakan air garam sambil diaduk. Konsentrasi garam dalam air untuk perendaman bekicot adalah 10%. Setelah selesai perendaman bekicot selanjutnya dicuci dengan air bersih kemudian direbus. Proses perebusan: air dipanaskan terlebih dahulu hingga mendidih, baru dimasukkan bekicot selama 20-30 menit. Selanjutnya keluarkan daging bekicot dari cangkangnya dan dicuci lagi dengan air bersih. Kemudian daging bekicot dicacah dan selanjutnya dikeringkan dengan penjemuran selama 2 hari atau dioven. Setelah kering daging bekicot digiling hingga halus.

Bekicot segar, Daging bekicot segar direndam dalam larutan garam dengan perbandingan 1 liter air dan 75 gr garam dapur selama 15 menit. Selanjutnya daging bekicot dicuci, kemudian dimasukkan ke dalam air mendidih selama 20 menit.

Silase Bekicot, Sebagai makanan ternak, bekicot dapat dibuat silase, dengan cara sebagai berikut: daging bekicot basah yang sudah digiling/dicacah halus dicampur dengan tepung singkong kering dengan perbandingan 2:1, selanjutnya difermentasikan selama 14 hari, dan dijemur. Silase ini mengandung protein 20%.

Tepung Cangkang Bekicot, Cangkang bekicot kering dan bersih dibuat tepung dengan cara dihancurkan/digiling, kemudian diayak dengan saringan 40 mesh. Tepung cangkang bekicot ini mengandung protein 28%, serat kasar 1%, kalsium 25%, fosfor 0,14%. Oleh karena itu pemanfaatan cangkang sebagai pakan sangat bagus untuk pertumbuhan tulang ternak, sehingga tepung cangkang bekicot dapat dicampurkan dengan tepung daging bekicot.

Pemanfaatan.

Didalam usaha peternakan, kebutuhan standar pakan yang jumlahnya relatif besar berupa bahan karbohidrat, lemak dan protein. Vitamin dan mineral sebagai imbuhan dalam ransum pakan diperlukan bila didalam ketiga bahan tersebut tidak mencukupi. Mengingat komponen pakan memerlukan biaya yang sangat tinggi sekitar 60-70% didalam usaha peternakan. Dalam industri peternakan, kebutuhan protein dalam ransum pakan sebagian besar masih dipenuhi dari bahan impor sebagai akibat dari tidak cukupnya pasokan dalam negeri. Swasembada ketiga bahan ini dapat memberikan pengaruh langsung yang sangat positif dalam iklim usaha peternakan dan ketersediaan produk asal ternak di pasar.

Untuk usaha penggemukan ternak sebagian peternak/pengusaha sudah menerapkan berbagai teknologi padat modal yang bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya tergantung pada ketersediaan bahan baku setempat. Berbeda halnya dengan usaha peternakan unggas komersiil, yang biasanya diusahakan dalam bentuk "inti-plasma" antara perusahaan dengan rakyat. Hubungan usaha ini cenderung berrantai 'tertutup' dimana segala kebutuhan saprodi dicukupi dan diatur oleh inti (perusahaan) termasuk didalam pemasaran produk yang mengakibatkan ketergantungan dari plasma kepada inti sangat tinggi dan tidak memiliki nilai tawar. Sehingga plasma tidak ada kesempatan berkreasi untuk menyusun ransum pakan sendiri untuk ternaknya. Sebagai akibatnya bahan baku yang ada di sekitar perusahaan tidak termanfaatkan dengan baik.

Pakan yang dikonsumsi ternak dengan bantuan mikroflora didalam perut dan proses biokimiawi akan dihasilkan energi dan nutrisi yang penting untuk pertumbuhan, reproduksi dan kesehatan ternak. Penambahan mineral membantu proses metabolisme. Perkiraan kebutuhan standar energi untuk beberapa jenis hewan ditampilkan dalam Tabel 10. Dari perbedaan mendasar kelengkapan sistem pencernaan antara ternak unggas dan ruminansia mengakibatkan kebutuhan jumlah dan jenis karbohidrat, lemak dan protein berbeda. Unggas relatif lebih rendah kemampuannya dalam mencerna serat dibandingkan ternak ruminansia. Sebagai akibatnya ternak ini membutuhkan sumber nutrisi dari bahan yang lebih mudah dicerna.

Sebaliknya untuk ternak ruminansia karena mempunyai struktur pencernaan ganda (memiliki rumen, retikulum, omasum dan abomasum) yang mampu mengkonversi pakan berkualitas rendah karena rumen memiliki ekosistem mikroflora yang berperan dalam penguraian bahan pakan dan sebagai produsen bahan protein serta vitamin yang dibutuhkan ternak. Protein memiliki peran sangat vital dalam membangun dan membentuk jaringan, cairan tubuh, enzim, produksi, cadangan energi, dll untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan ternak secara optimal. Jumlah tepung bekicot mentah dalam ransum unggas dapat diberikan ?10% dan tepung bekicot rebus sekitar 15%. Penggunaan tepung bekicot dalam ransum unggas lebih ekonomis daripada tepung ikan. Usaha peternakan skala rumahan lebih siap untuk dapat memanfaatkan sumber protein dari bahan lokal sekelilingnya.